Berhati-hatilah dalam menyusun portofolio sertifikasi guru dalam jabatan

Portofolio adalah setumpuk berkas yang dimiliki oleh masing-masing guru untuk dinilai oleh tim asesor dari institusi penilai yang telah ditunjuk oleh pemerintah, didalamnya berisikan berbagai macam berkas seperti fotocopy ijazah, berbagai macam piagam penghargaan, surat-surat tugasm surat pengangkatan, surat keterangan, laporan penelitian, RPP, dan masih  banyak jenis berkas yang dapat dimasukkan kedalamnya.

Ketika nama kita sudah masuk dalam daftar calon peserta sertifkasi guru dalam jabatan pada periode berikutnya, maka kita harus segera mempersiapkan portofolio tersebut dengan cermat dan hati-hati, agar tidak ada yang terlewatkan. Karena belakangan ini, penilaian portofolio semakin diperketat, dan hasil penilaiannya, juga akan mempengaruhi kelulusan kita dalam mengikuti Diklat (PLPG), jikalau nilai portofolio tadi tidak mencukupi untuk membua kita lulus. Jadi kelulusan DIklat (PLPG) masih tetap dipengaruhi oleh nilai portofolio, semisal pada tahun 2008 kamrin, 25% dari nilai diklat diambilkan dari nilai portofolio, karena itu jika nilai portofolio kita jeblok, tentu akan susah atau bahkan tidak mungkin untuk bisa lulus Diklat (PLPG).

Beberapa kesalahan yang sering dilakukan saat menyusun portofolio diantaranya :

  1. “Menjahitkan” portofolio, demikian bahaa para asesor ketima mereka menemukan portofolio yang bukan disusun oleh guru yang bersangkutan sendiri.
  2. Memasukkan RPP yang asal jadi, karena harap diperhatikan, RPP adalah salah satu point penting dalam penilaian portofolio.
  3. Memasukkan SK pengangkatan yang tidak masuk akal, seperti SK pengangkatan tahun 1980-an tapi sudah menggunakan komputer untuk pencetakannya.
  4. Melampirkan laporan penelitian yang tidak jelas asalnya darimana, karena para asesor itu adalah orang-orang yang terpilih dan memiliki keahlian dibidangnya, sehingga mereka tahu betul seluk beluk laporan penelitian.
  5. Melampirkan sertifikat produk massal, karena sejak munculnya sertifikasi guru dalam jabatan, banyak pihak yang memanfaatkan kesempatan ini dengan menjual sertifikat, padahal acara yang tercantum dalam sertifikat tidak pernah ada atau dilaksanakan.
  6. Jarang berkonsultasi dengan teman sejawat yang sudah mengikuti sertifikasi.
  7. Terlalu pesimis dengan lolosnya portofolio yang sedang disusun.
Did you like this? Share it:

4 thoughts on “Berhati-hatilah dalam menyusun portofolio sertifikasi guru dalam jabatan

Leave a Reply

Your email address will not be published.