Facebook; antara haram dan halal

Belakangan Facebook dan Friendster menjadi sesuatu yang ramai diperbincangkan, bahkan orang yang tidak begitu faham apa itu jejaring sosial didunia maya ini juga ikut-ikutan meramaikan perbincangan ini. Maka tidak heran perbincangan ini makin lama makin hangat dan mungkin bisa jadi memanas, karena kalau diperhatikan statement yang dilontarkan saling tarik menarik dengan kuatnya  tanpa dicari benang merah atau titik temunya.

Berawal dari keputusan sebuah Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) yang mengharamkan facebook apabila digunakan secara berlebihan dan menjurus kearah maksiat, seperti menampilkan foto-foto yang berbau pornografi. Keharaman inilah yang kemudian membuat banyak pengguna Facebook khususnya merasa gerah, sehingga akhirnya terjadilah debat kusir yang tidak jelas kapan selesainya, karena depat itu saling mempertahankan pendapatnya yang pada posisi saling bertolak belakang. Satu kelompok berpendapat haram kalau menjurus pada maksiat, dan yang lain membolehkan karena banyak manfaatnya, salah satunya adalah sebagai sarana silaturrahmi dan dakwah.

Terlepas dari polemik diatas, apa yang diputuskan oleh FMP3 tidaklah salah, karena hampir semua agama pasti melarang atau mengharamkan hal-hal yang mengarah pada sesuatu yang negatif, tidak hanya Facebook dan sejenisnya. Dan pada sisi yang lain, masyarakat yang awam masalah agama hanya melihat fatwa haramnya itu, karena memang difahami secara sepotong-sepotong.

Saya sendiri sebagai pengguna Facebook merasa lebih besar manfaatnya daripada madlarat atau dampak negatif yang diakibatkan oleh situs jejaring sosial ini. Bahkan dengan adanya Facebook ini, saya bisa berkomunukasi, berdiskusi dan saling menyapa dengan beberapa alumni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum yang saat ini berada dibeberapa daerah bahkan diluar negeri.

Jadi haram atau halalnya berfesbuk kita kembalikan kepada penggunanaya itu sendiri, layaknya sebuah pisau akan menjadi haram kalau dipergunakan untuk menyakiti orang lain atau membunuh, tetapi dia akan menjadi halal atau bahkan wajib bila dipergunakan untuk menyembelih hewan qurban.

Did you like this? Share it:

3 thoughts on “Facebook; antara haram dan halal

  1. imcw

    Coba carikan satu gambar porno di FB kalau sampeyan bisa
    menemukannya? 🙂 Teknologi memang ibarat mata pisau yang sangat
    terggantung dari bagaimana kita memanfaatkannya.

  2. tukang ngomel

    facebook itu cuman alat, yg halal atau haram adl tindakan yang
    menggunakan alat itu, iya to Gus? *btw, klo banyak alat di dunia
    ini disandingkan dengan kalimat ‘jika digunakan secara berlebihan’
    yang bakalan banyak yg haram* 🙁

  3. adam

    sangat tergesa – gesa bagi orang yang memutuskan hukum dari sebuah
    masalah, begitu juga orang yang menjadi objek sebuah hukum terlalu
    tergesa – gesa membuat Pledoi, tanpa melihat mashlahah ummah.
    seperti telah kita ketahui bersama dalam ushlu fiqih, bahwa
    maqashidu al-Syariah, merupakan sebuah perhitungan dan pertimbangan
    dalam pengambilan keputusan sebuah hukum, karena sebuah hukum
    memiliki implikasi yang sangat besar terhadap sosial masyarakat.
    sebuah ungkapan “haram”, dan “tidak haram”, hendaklah merujuk pada
    pertimbangan tadi. dalam hasyiyah al-Bujairimi, disebutkan
    perbedaan pandangan ulama dalam memahami “manfaat” namun jumhurul
    ulama tetap menegaskan bahwa manfaat (mashlahah)yang kembali kepada
    ummah-lah yang menjadi tolak ukur dalam pengambilan sebuah hukum.
    wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.