Hari Ke-6 & 7 PLPG

Hari yang paling ditunggu dan paling mendebarkan akhirnya datang juga, hari keenam dan ketujuh dari pelaksanaan PLPG, karena di hari itu peserta PLPG harus mengikuti materi praktek pembelajaran atau pier teaching, dimana masing-masing peserta harus berperan menjadi guru dan peserta yang lain berperan menjadi murid.

Satu hal yang mungkin menjadi problem bagi para peserta, sehingga mereka sangat kikuk ketika harus tampil didepan berperan sebagai guru, yaitu kehadiran instruktur yang juga akan memberikan penilaian terhadap cara mengajar masing-masing peserta. Saya secara pribadi yakin kalau para peserta adalah guru-guru senior yang sudah puluhan tahun mengajar disekolah masing-masing, namun ketika mereka harus tampil pada kondisi yang berbeda dan situasi yang berbeda serta ditambah dengan kehadiran penilai, maka salah tingkah sering kali muncul dalam praktek pembelajaran ini.

Sebelum masing-masing peserta tampil diwajibkan membuat RPP yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan, ditambah dengan media pembelajaran. Dua komponen inilah yang seringkali membuat peserta kurang istirahat, karena bisa dibayangkan kalau materi diklat baru selesai jam 19.30, maka berikutnya yang harus dilakukan adalah menyusun RPP dan membuat media yang sesuai.

Membuat media pembelajaran akan menjadi mudah kalau banyak sarana dan alat yang bisa kita pergunakan, namun bila harus membuat media dihotel tempat diklat dilaksanakan, tentu bukan hal yang mudah, karena para peserta sangat kesulitan mencari bahan dan alat yang akan dipergunakan membuat media. Karen itu tidak jarang kemudian peserta berburu koran bekas untuk diambil gambar-gambarnya, agar bisa dijadikan media pembelajaran.

Selama melaksanakan praktek mengajar, kelas Rombel 7 yang berjumlah 22 peserta dipisah menjadi 2 kelas, yakni kelas Sosiologi dan kelas sejarah, sehingga masing-masingĀ  kelas berjumlah 11 orang. Saya sendiri tergabung dikelas sosiologi, kelas yang paling ramai dan bawel, karena memang sejak awal semua peserta kelas sosiologi berkomitmen untuk tetap memelihara suasana kelas yang ramai dan humoris, agar tidak timbul stress yang berlebihan ketika harus tampil didepan.

Dan beruntunglah kelas sosiologi mendapatkan instruktur yang kalem dan humoris juga, sehingga kesan bahwa instruktur sedang memberikan penilaian kepada peserta tidak tampak. diakhir penampilan tiap peserta, diadakan refleksi, dimana peserta lain boleh memebrikan masukan pada pserta yang baru saja tampil tentang beberap kekurangan dari penampilannya, dan diakhiri dengan masukan dari isntruktur sendiri tentang apa yang kurang.

Penampilan masing masing peserta dibatasi antar 35-40 menit untuk sekali tampil, dan paserta diharuskan tampil 2 kali didepan kelas dengan materi yang berbeda dan media yang berbeda. Pada tampilan pertama banyak peserta yang masih membawa kebiasaanya dikelas, yaitu menggunakan model ceramah. Namun setelah mendapatkan masukan dan kritik, pada tampilan ke 2, model ceramah tidal lagi dipergunakan untuk mengajar, tetapi menggunakan model-model pembalajaran yang lain yang lebih variatif.

Did you like this? Share it:

Leave a Reply

Your email address will not be published.