Jangan putuskan tali silaturrahmi (2)

Sesuai janji saya, kali ini saya ingin menulis kembali ringkasan mau’idzah hasanah yang disampaikna oleh KH. Darwis Fathul Bari, yang beliau sampaikan dalam acara Haul Syaikh Isma’il bin Abdullah, didesa Umbul, Tambelangan, Sampang, pada hari sabtu, 19 April 2008. Dalam kesempatan itu, beliau menyampaikan hal yang merupakan kebalikan dari apa yang disampaikan oleh KH. Qosim Bukhori. Kalau KH Qosim Bukhori, menyampaikan kewajiban untuk mempererat tali silaturrahmi, sedangkan KH. Darwis menyampaikan larangan memutuskan tali silaturrahmi, cukup menarik juga cara mencari topik yang akan disampaikan.

Dalam penyampaiannya, KH. Darwis menceritakan tentang sebuah legenda Bir Hud, sebuah sumur yang berada disebuah kolam pemandian diMekkah. Dahulu kala dikota Mekkah terdapat beberapa kolam pemandian, salah satunya adalah kolam pemandian Yamani, yang didalamnya terdapat sumur bernama bir hud. Legenda ini beliau dapat dari sebuah literatur bertitel Dalil al Hajj, yang semat beliau baca pada masa muda dahulu. Namun sayangnya, karena keterbatasan daya hafal beliau, beberapa nama yang terdapat dalam legenda tersebut tidak bisa beliau sebutkan secara persis.

Dahulu kala ada sorang dermawan yang kaya raya, ia tinggal di Mekkah, sebutlah namanya Abdullah. Ketika itu diMekkah sedang muncul trend baru, yaitu melakukan dakwah Islam keluar jazirah Arab. Demikian juga dengan Abdullah ini, dia juga tertarik untuk melakukan dakwah keseluruh penjuru dunia, kebetulan dia memiliki harta yang lebih dari cukup untuk melakukan dakwah keliling dunia. Namun demikian, Abdullah tidak ingin menghabiskan seluruh hartanya untuk berdakwah, karena itu kemudian dia mencari orang yang sekiranya bisa dia percaya untuk menjaga sebagian hartanya yang akan dia tinggalkan.

Akhirnya pilihannya jatuh pada seorang syaikh, yang setiap harinya selalu berdiam diMasjidil Haram, aktivitasnya hanya berthawaf, shalat dan membaca al-quran. Sebetulnya banyak juga syaikh yang lain yang melakukan aktivitas yang sama, hanya hati Abdullah sudah mantap untuk memilih syaikh Jalal (nama samaran juga), untuk dititipi sebagian hartanya.

Akhirnya Abdullah menghadap pada syaikh Jalal, dan dia mengutarakan niatnya untuk menitipkan separuh hartanya. ” Syaikh Jalal, aku berniat untuk melakukan dakwah Islam keluar Arab. Sedangkan hartaku disini cukup banyak, aku ingin syaikh menjaga sebagian harta itu untukku. Agar ketika aku kembali karena kehabisan harta, aku bisa meminta sebagian hartaku itu pada syaikh. Bagaimana syaikh ?” Demikian pinta Abadullah pada orang tua dihadapannya itu. Dan tanpa berpikir panjang, Syaikh Jalal mau menerima titipan itu, “Baiklah aku terima titipanmu ini, dan aku tidak akan meminta imbalan apapun darimu. Aku akan menaganya dengan keikhlasanku, semoga amalku ini nantinya akan dicatat dan diterima oleh Allah SWT… Amin.” Dengan perasaan lega, Abdullah menyerahkan sebagian hartanya kepada syaikh Jalal. Dan selajutnya, dia mempersiapkan kepergiannya keluar dari jazirah Arab untuk berdakwah.

Setelah beberapa lama, Abdullah kehabisan bekalnya untuk berdakwah, karena itu dia kembali keMekkah untuk meminta kembali sebagian hartanay pada Syaikh Jalal, agar dia bisa melanjutkan dakwahnya. Setibanya diMasjidil Haram, Abdullah mencari Syaikh Jalal. Tetapi orang tua itu tidak lagi bisa ditemuinya, tidak ada syaikh Jalal didalam masjid itu, ditempat thawaf, tempat sa’i, bahakn didalam bangunan sumur zamzam juga tidak ada. Padahal beberapa tahun yang lalu, Syaikh Jalal bisa ditemuinya dengan mudah dilingkungan masjid, karena memang syaikh Jalal tidak pernah pulang kerumahnya, rumahnya adalah Masjidil Haram, untuk makanpun dia selalau dikirimi makanan oleh keluarganya.

Setelah berputar-putar beberapa kali didalam masjid, Abdullah akhirnya putus asa, dia kemudian menghampiri soerang tua yang juga punya aktivitas yang sama dengan syaikh Jalal, selalu tinggal dan biribadah di Masjidil Haram. Abdullah kemudian bertanya, “Ya Syaikh, tahukah anda dimana syaikh Jalal sekarang ?” Syaikh itu menjawab, “Syaikh Jalal sudah wafat beberapa tahun yang lalu… Ada apa kau mencarinya ?” tanya syaikh itu pada Abdullah. Kemudian Abdullah menceritakan apa yang dilakukannya, dan titipannya pada Ayaikh Jalal. Kemudian Syaikh itu memberikan saran pada Abdullah ” Kalau begitu, coba kamu tanya titipanmu itu pada keluarganya, mungkin mereka tahu dimana titipanmu itu berada… Coba datangi rumahnya…”

Dengan langkah bergegas, Abdullah pergi meninggalkan Masjidil Haram menuju rumah kediaman Syaikh Jalal. Sesampai didepan pintu, Abdullah mengucapkan salam, ‘Assalamu’alaikum…” Tidak beberapa lama, dari dlaam rumah terdengar jawaban, “Wa’laikumussalaam…” kemudian pintupun terbuka. “Anda siapa ? dan ada keperluan apa ?…” tanya seorang pemuda yang muncul dari balik pintu.

“Saya Abdullah, saya ada perlu dengan Syaikh Jalal…”

“Wah.. Syaikh Jalal sudah wafat beberapa tahun yang lalu, tapi silahkan masuk dahulu, kita berbincang didalam.” pinta sang pemuda itu.

Setelah itu Abdullah masuk mengikuti sang pemuda itu, dan kemudian dia dipersilahkan duduk.

“Oh iya, saya adalah putra syaikh Jalal. Kiranya ada keperluan apa dengan Syaikh Jalal, sehingga tuan perlu datang kerumah kami ini ?” tanya sang pemuda.

“Begini, maksud kedatangan saya disini ingin menanyakan barang titipan saya kepada Syaikh Jalal beberapa tahun yang lalu…” Kemudian Abdullah menceritakan kronologi ceritanya secara lengkap kepada putra Syaikh Jalal itu.

“Apakah Syaikh Jalal pernah menitipkna sesuatu atau berwasiat ?” tanya Abdullah dengan penuh harap.

“Sepertinya Syaikh Jalal tidak pernah menceritakan tentang barang titipan tuan itu, beliu juga tidak pernah berwasiat apapun tentang tuan…” jawab putra Syaikh Jalal.

Dengan dada penuh sesak, Abdullah kemudian berpamitan kepada putra Syaikh Jalal. Abdullah sempat kebingungan, akan kemana dia pergi, kerna tidak ada lagi yang bisa membantunya mengembalikan separuh hartanya yang dibawa Syaikh Jalal. Sejurus kemudian, Abdullah mendapatkan ide untuk menceritakan apa yang baru dialaminya kepada Syaikh yang dia temui di Masjidil Haram, barangkali dia bisa memberikan solusi atas masalah yang dihadapinya itu.

“Ada apa tuan ? sehingga tuan perlu menemuiku lagi.” selidik Syaikh sambil menatap tajam pada Abullah.

“Begini syaikh, keluarga syaikh Jalal tidak tahu sama sekali tentang titipanku itu, lalu bagaimana caranya aku memperoleh kembali separuh hartaku yang aku titipkan pada Syaikh Jalal itu?”

“Kalau begitu, coba kamu datang kepada seorang ulama besar yang rumahnya didekat Masjid itu, Insya Allah dia bisa membantumu..” demikian arahan dari SYaikh itu kepada Abdullah.

Bergegas Abdullah meninggalkan Masjidil Haram menuju rumah ulama besar yang ditunjukkan oleh Syaikh tadi. Sesampainya dirumah itu, Abdullah menjelaskan siapa dirinya dan apa keperluannya kepada ulama yang sudah cukup berumur itu. Abdullah menceritakan masalah yang dihadapinya, dari awal pertemuannya dengan Syaikh Jalal, sampai pertemuannya dengan keluarga Syaikh Jalal yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan masalah yang dihadapi Abdullah. Sejenak Syaikh yang ‘alim itu menghela nafasnya, kemudian dengan sura penuh wibawa beliau berkata,

“Begini saja, nanti malam, setelah lepas tengah malam, kamu datang keMasjidil Haram, kamu thawaf disana, kemudian datanglah kesumur Zamzam. Diatas sumur itu kamu ucapkan salam kepada Syaikh Jalal…” demikian solusi yang diberikan oleh Syaikh yang ‘alim ini.

Lewat tengah malam, Abdullah datang keMasjidil Haram, berthawaf dan kemudian mendatangai sumur Zamzam. Sejenak kemudian dia mengucapkan salam diatas sumur itu.

“Assalamu’alaika ya Syaikh Jalal…” Suasana sunyi masi dirasakan oleh Abdullah, tidak ada orang yang menjawab. Kemudian dia mengulangi salamnya sampai tiga kali, tetap tidak ada jawaban.

Keesokan harinya Abdullah mendatangi kembali Syaikh yang ‘alim itu dirumahnya, dan menceritakan apa yang dialaminya. Betapa terperanjatnya Syaikh yang ‘alim itu setelah mendengar penjelasan Abdullah.

“Subhanallaaahhh… benar apa yang kamu katakan itu ?” Tanya Syaikh itu dengan penuh selidik.

“Benar Syaikh, saya sudah melaksanakan apa yang syaikh anjurkan itu, tapi tetap tidak ada jawaban sama sekali…”

“Kalau begitu nanti malam, kamu ulangi lagi thawaf ditengah malam itu, kemudian kamu dtangi sumur Zamzam dan ucapkan salam kepada Syaikh Jalal…” Pinta Syaikh yang ‘alim ini kepada Abdullah.

Abdullah agak terheran-heran dengan saran yang disampaikan oleh Syaikh ini, kira-kira apa hubungannya masalah yang dihahadpi oleh Abdullah dengan saran yang deberikan oleh Syaikh itu ? Tapi sekali lagi Abdullah melaksanakan saran itu, sebagaimana yang dia lakukan kemarin malam. Tapi tetap tidak ada jawaban, kesunyian masih dirasakan oleh Abdullah ditengah malam itu. Keesokan harinya Abdullah kembali menemui Syaikh itu, dan menceritakan kembali apa yang dialaminya tadi malam. Kali ini sang Syaikh itu tidak kurang terperanjatnya dengan cerita yang disampaikan oleh Abdullah, dan Abdullah semakin terheran-heran dengan sikap syaikh itu. Sejurus kemudian syaikh itu berkata.

“Besok malam coba kamu ulangi thawaf tengah malam di Masjidil Haram, kemudian kamu datangi bir hud (sumur hud) yang ada di qollah (pemandian) Yamani itu, kemudian kamu ucapkan salam diatas bir hud…”

Malam itu, kembali Abdullah melakukan thawaf, kemudian dia bergegas pergi menuju bir hud. Sesampainya di bir hud, Abdullah mengucapkan salam.

“Assalamu’alaika ya Syaikh Jalal…” Sejenak tidak ada jawaban sama sekali, masih sunyi, tidak ada jawaban sama sekali. Sekali lagi Abdullah mengulangi ucapan salamnya.

“Assalamu’alaika ya Syaikh Jalal…”

“Wa’… alaikassala… aammm…” tiba-tiba terdengar jawaban salam dengan suara tersendat-sendat. Sejurus kemudian dengan izin Allah, tiba-tiba tampak didepan Abdullah sesosok manusia yang dia kenal. Ya… beliau ternyata Syaikh Jalal. Tapi…. Subhanallah… Syaikh Jalal terikat rantai dilehernya, sehingga ia menjadi tergantung. Sontak Abdullah terkesiap melihat pemandangan didepannya, dengan sisa kberaniannya Abdullah bertanya pada Syaikh Jalal didepannya itu.

“Subhanallaaahhhh… wahai Syaikh apa yang terjadi dengan anda ? padahal ketika engkau masih hidup, tiada henti engkau beribada ditempat suci Masjidil Haraa. Mengapa semua ini bisa terjadi…?”

Dengan suara tertahan karena tercekik lehernya, Syaikh Jalal menjawab.

“Ya beginilah nasibku sekarang, apa yang aku lakukan dulu tidak lagi berguna sekarang. Allah telah menjatuhkan vonis pada diriku sebagai orang yang memutuskan tali silaturrahmi… Mengenai hartamu, aku simpan didekap pintu masjid sebelah dalam, galilah lantainya, maka engkau akan menemukan harta yang kau titipkan padaku.”

Abdullah hanya bisa mengangguk dan terpana dengan kejadian yang terjadi dihadapannya. Kemudian Abdullah kembali bertanya.

“Ya Syaikh, tapi kenapa engkau bisa mengalami hal seperti ini ?”

“Dahulu ketika aku masih hidup, aku mempunyai saudara perempuan. Suatu ketika saudariku itu mengundangku untuk datang kerumah barunya diluar kota Mekkah. Tatapi aku sibuk dengan urusan ibadahku, sehingga aku menolak undangan saudariku itu. Ternyata saudariku itu tidak bisa menerima hal ini, dia tidak memaafkanku. Baiklah Abdullah, waktu kita sudah habis…” tiba-tiba bayangan Syaikh Jalal lenyap dari hadapan Abdullah.

Dengan perasaan tidak menentu, Abdullah pulang meninggalkan bir hud. Dan keesokan harinya dia pergi menuju Syaikh yang ‘alim itu dan menceritakan apa yang dialaminya semalam di bir hud.

“Subhanallaah… kalau begitu cepat kamu datangi keluarga Syaikh Jalal, dan kamu sampaikan apa yang kamu alami semalam…” pinta sang Syaikh kepada Abdullah.

Kembali Abdullah bergegas menuju rumah Syaikh Jalal untuk menenui keluarganya, dia bermaksud menceritakan apa yan dialaminya kepada keluarga Syaikh Jalal. Dan betapa terkejutnya keluarga Syaikh Jalal mendengar cerita Abdullah, mereka tidak bisa menerima penjelasan Abdullah, kalau saja tidak melihat kebaikan dan kejujuran Abdullah. Bahkan putra Syaikh Jalal sempat menyitir beberapa hadits yang mengisahkan balasan pahala bagi orang-orang yang selalu beribadah kepada Allah, seakan hadits-hadits itu tidak ada gunanya lagi, ketika dia mendengar cerita Abdullah bahwa Syaikh Jalal mendapatkan siksa Allah dialam kuburnya. Akan tetapi setelah mendapatkan penjelsan yang lebih rinci dari Abdullah, tentang kenapa Syaikh Jalal mendapatkan siksa seperti itu, akhirnya keluarga Syaikh Jalal bisa menerima penjelasan Abdullah. Bahkan kemudian putra Syaikh Jalal, mengajak Abdullah untuk mendatangi bibinya, yang tidak lain saudari perempuan Syaikh Jalal, diluar kota Mekkah.

Berangkatlah kedua orang ini, menuju rumah saudari Syaikh Jalal itu. Dan sesampainya dirumahnya, dengan sedikit basa-basi, putra Syaikh Jalal menyampaikan mksud kedatangannya kepada bibinya itu.

“Bibi… kedatanganku disini untuk memintakan maaf bagi ayahku Syaikh Jalal…” Pinta putra Syaikh Jalal dengan penuh harap. Tetapi sang bibi tetap diam, tidak memberikan rspon sama sekali.

“Bagaimana bibi ? maukah kau memafkan ayahandaku Syaikh Jalal ?”

Sejenak kemudian, bibi putra Syaikh Jalal itu berbicara dengan nada tinggi.

“Tidak anakku… Aku tidak bisa memaafkn Syaikh Jalal. Dia sangat menyakiti hatiku. Aku mengundangnya sekali saja, dan aku sangat mengharapkan kedatangannya… tetapi dia sama sekali tidak menghiraukanku… Aku hanya menginginkan doa restunya, aku hanya ingin dia menginjakkan kakiknya dirumahku ini… tetapi dia malah lebih memilih untuk beribadah hanya untuk dirinya sendiri… sangat sulit bagiku untuk bisa melupakan apa yang telah dilakukannya padaku…”

“Tetapi bibi… ayahanda sudah lama meninggal… masa bibi tidak merasa kasihan kepada beliau…” putra Syaikh Jalil menghiba. Sementara sang bibi tetap diam membisu tidak memberikan jawaban sam sekali.

“Baiklah kalu begitu, biar laki-laki ini yang bercerita tentang nasib ayahanda dialam kuburnya… Tuan Abdullah, coba ceritakan apa yang kamu alami dan kamu lihat kepada bibiku…”

Kemudian Abdullah mulai bercerita, tenag apa yang terjadi antara dirinya dengan Syaikh Jalal, dan apa yang dia lihat di bir hud. Semuanya diceritakan secara rinci oleh Abdullah. Tiba-tiba saudari Syaikh Jalal itu berteriak sambil menangis…

“Subhanallaah… baiklah anakku… kamu jadi saksi… aku maafkan semua kesalahan Sayikh Jalal kepadaku…” Akhirnya legalah hati putera Syaikh Jalal. keduanya kemudian pamit untuk pulang.

Keesokan harinya Abdullah kembali mendatangi Syaikh yang ‘alim itu, dan menceritakan apa yang terjadi dengan keluarga Syaikh Jalal, termasuk ketika saudari Syaikh Jalal memafkan kesalahan-kesalahan Syaikh Jalal.

“Alhamdulillah… kalau begitu nanti malam kamu datangi bir hud, dan kamu ucapkn salam pada Syaikh Jalal disana…” kata Syaikh yang ‘alim itu.

Malam harinya, selepas tengah malam, Abdullah melakukan thawaf di Baitullah, kemudian dia pergi ke bir hud untuk melaksanakan tugas dari Syaikh yang ‘alim itu. Dan seampainya di bir hud, Abdullah mengucapkan salam kepada Syaikh Jalal.

“Assalamu’alaika ya Syaikh Jalal…” tidak ada jawaban, kemudian dia mengulanginya sampai tiga kali, tidak juga ada jawaban. Sungguh lega hati Abdullah, dengan langkah cepat dia meninggalkan bir hud. Keesokan harinya, Abdullah kembali Thawaf selepas tengah malam dan kemudian mendatangi sumur Zamzam, slanjutnya dia mengucapkan salam kepada Syaikh Jalal.

“Assalamu’alika ya Syaikh Jalal..”

” Wa’alaikassalaam… ” terdengar suara menjawab, dan dengan izin Allah SWT, terlihatlah sosok Syaikh Jalal dengan pakaian yang serba indah tampak dihadapan Abdullah. Syaikh Jalal trsenyum dan kemudian berakata :

“Aku sangat berterima kasih kepadamu wahai tuan Abdullah, kalau sekiranya engkau tidak menitipkan hartamu kepadaku, dan aku tidak menerimanya dengan keikhlasanku, mungkin aku tidak akan bisa selamat dari api neraka. Walaupun dahulu kala ketika aku masih hidup, aku tanpa henti beribadah kepada Allah SWT, tapi semua itu tidak ada artinya, ketika aku punya kesalahan kepada oranglain, apalagi orang itu adalah keluargakua. Sehingga aku divonis bersalah karena memutuskan tali silaturrahmi.” Kata Syaikh Jalal sambil tersenyum kepad Abdullah.

Begitulah apa yang disampaikan oleh KH Darwis Fathul Bari dalam mau’idzh hasanahnya, diakhir mau’idzahnya beliau menyimpulkan bahwa ada dua hal penting dalam cerita tadi. Pertama, jangan pernah sekali-sekali memutuskan tali silaturrahmi, utamanya dengan keluarga. Kedua, jangan pernah meremehkan dosa-dosa kecil, karena baik dosa kecil maupun dosa besar, sangat dibenci oleh Allah SWT, keduanya tetap akan mendapatkan balasa siksa.

Did you like this? Share it:

5 thoughts on “Jangan putuskan tali silaturrahmi (2)

  1. BolaNaga

    Bicara dan melakukan lebih mudah bicara hud, orang yang sudah sakit hati ngilangin sakit hati susah…

    coba lu rasain gemana ranya di injek injek kayak sampah ora ana hargane sebagai manusia ma orang, di remehin, berbuat baek yang gue terima malah makian, jadi gue dah ngalamin kayak getu jadi males ngoceh ma orang itu… jadi dah tus putusss

Leave a Reply

Your email address will not be published.