Kekuatan doa

Sudah hampir 1 tahun ini, salah satu guru, orang tua dan panutan saya mengalami sakit akibat terkena serangan stroke yang cukup parah. Beliau adalah salah satu Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah yang tinggal didaerah Malang, Pengasuh Pondok Pesantren Raulatul Ulum II di Desa Putukrejo Gondanglegi Malang, menjabat sebagai ketua beberapa yayasan pendidikan, sosial dan keagamaan, dan banyak kegiatan lain yang beliau pimpin.

KH Qosim Bukhori, begitulah nama lengkap beliau, tidak hanya dikenal didaerah Malang saja, namun namanya juga banyak dikenal didaerah lain seperti Madura sampai diKalimantan Barat. Karena memang sudah menjadi rutinitas beliau berkeliling menyebarkan dan mensyiarkan thariqat Naqsyabandiyah dibeberapa daerah.

Hingga pada suatu ketika, beberapa hari setelah beliau datang dari luar Jawa, beliau mengalami stroke yang cukup menghawatirkan kami para murid dan santrinya, karena ketika saya sendiri menjenguk beliau dirumah sakit, sesaat setelah beliau mengalami stroke itu, kondisinya dalam keadaan kritis. Sekitar 5 hari beliau berada diruang ICU khusus stroke di sebuah rumah sakit yang menjadi pusat perawatan stroke diMalang.

Belakangan saya baru tahu kalau ketika itu para dokter dirumah sakit tersebut juga sudah tidak lagi mempunyai harapan atas kondisi beliau, mengingat serangan strokenya yang pada stadium parah itu. Hal ini saya ketahui dari beberapa dokter yang sempat merawat beliau, sesaat setelah mengalami serangan stroke.

Sebagai seorang guru yang sangat dicintai oleh murid dan santrinya, berita sakitnya beliau menyebar dengan cepat, hingga dalam waktu sekejap, pihak rumah sakit mengalami situsai yang cukup merepotkan, karena begitu banyak yang datang menjenguk beliau, sehingga seakan-akan situasi ketika itu sedang ada demontsrasi didepan rumah sakit.

Satu hal yang saya ingat ketika itu, hampir semua penjenguk menitikkan air matanya ketika bisa melihat kondisi KH Qosim Bukhori yang terbaring lemah tanpa sadarkan diri, dan hampir semua yang datang menjenguk tidak lupa juga menengadahkan tangan untuk memohon kesembuhan beliau kepada Allah SWT, Sang Pemberi Kesembuhan. Bahkan dari cerita keluarga beliau, para dokter dirumah sakit itu terheran-heran dengan banyaknya pengunjung yang membesuk dan memanjatkan doa untuk kesembuhan beliau.

Memang tidak dapat dipungkiri kalau dalam situasi seperti itu, doa adalah satu-satunya cara yang bisa kami lakukan, karena secara medis beliau sudah ditangani oleh dokter-dokter spesialis yang sangat tidka diragukan keahliannya. Kami yakin bahwa doa mempunyai kekuatan yang dapat “mengubah” suatu kondisi tertentu, sebagaimana diriwayatkan dari hadits Nabi SAW, bahwa doa adalah bagikan sebuah “senjata” bagi seorang mukmin. Dengan senjata itu sorang mukmin bisa merubah situasi menjadi lebih baik.

Dan alhamdulillah, ternyata doa itu dikabulkan oleh Allah, kondisi beliau membaik dan terus membaik, bahkan para dokter yang menanganinya menyebutnya sebuah keajaiban, karena biasanya tidak ada yang bisa selamat dari kondisi seperti itu. Sekali lagi doa telah menampakkan kekuatannya.

Did you like this? Share it:

Leave a Reply

Your email address will not be published.