Kepergian sang guru thariqah

Setelah berjuang selama hampir 4 tahun melawan penyakit stroke yang menggerogoti kesehatan beliau, KH. Qosim Bukhori, akhirnya pada Ahad 14 November 2010,  Sang Guru (Mursyid) Thariqah Naqsyabandiyah itu berpulang ke rahmatullah, dan meninggalkan para santri dan murid-muridnya para jamaah Thariqah Naqsyabandiyah. Raut muka bersedih begitu tampak di hampir semua areal Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 2 di Putukrejo, semua merasa begitu kehilangan sosok panutan dan pengayom mereka selama ini.

Walaupun sebenarnya sudah banyak yang memperkirakan bahwa beliau tidak akan bertahan lama, karena mendapatkan serangan stroke untuk yang kedua kalinya, namun kepergian beliau untuk selama-lamanya tetap sulit untuk diterima oleh para santri, alumni dan murid-murid beliau. Semenjak kabar berita wafatnya beliau tersebar, sekitar pukul18.30 WIB, para santri mulai sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk upacara pemakaman besok pagi, sementara para alumni dan para murid-murid, daanpara pentaziyah mulai berdatangan.

Sekitar pukul 19.00 WIB, jenazah sudha tiba di lokasi Pondok Pesantren dan segara di lakukan pemandian jenazah oleh pihak keluarga. tampak para putra-putri beliau dengan tabah memandikan jenazah. Sementara anggota keluarga yang lain, mulai melantunkan doa-doa, diiringi oleh para santri dan ta’ziyyin.

Sebagai Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah KH Qosim Bukhori, mempunyai begitu banyak murid yang tersebar hampir diseantero Nusantara, mulai dari daerah Malang sendiri, Kalimantan, Madura dan beberapa daerah lain. Sehingga kemudian pihak keluarga memutuskan¬† untuk memulai proses pemakaman esok pagi, jam 8.00 WIB agar semakin banyak para penta’ziyah yang dapat memberikan penghormatan terakhir kepada guru thariqah mereka.

Banyak kenangan indah yang terbayang dalam benak para santri, alumni dan para murid beliau, diantaranya adalah kebiasaan beliau untuk menziarahi beberapa makam  keluarga dan makam para wali yang lain, walaupun dalam keadaan sakit. Bahkan terkadang beliau bisa berjam-jam berada disamping makam ayahanda beliau, KH. Bukhori Ismail, yang berlokasi didesa Ganjaran Gondanglegi Malang. Kebiasaan berziarah ini begitu istiqamahnya beliau lakukan setiap hari, pagi dan sore, sesekali beliau juga menziarahi makam Sunan Ampel di Surabaya dan makam KH Kholil Bangkalan.

Did you like this? Share it:

Leave a Reply

Your email address will not be published.