Mengapa harus memperingati maulid Nabi Muhammad saw ?

Beberapa kali tulisan saya tentang maulid Nabi Muhammad saw diblog ini mendapatkan “arahan” dari beberapa ikhwan yang sepertinya kurang suka dengan adanya peringatan maulid Nabi Muhammad saw, dan beberapa kali itu juga “arahan” itu saya jawab dengan kondisi yang sebenarnya dalam peringatan maulid Nabi Muhammad saw.

Memperingati maulid Nabi Muhammad saw, sejatinya adalah keharusan bagi ummmat Muhammad saw, karena Allah SWT-pun terlah berfirman : Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”(QS.Yunus:58) Dan Rasulullah saw sendiri menegaskan, bahwa rahmat yang terbesar yang dikaruniakan Allah SWT kepada alam semesta ini, adalah dengan lahirnya Nabi Muhammad saw. Demikian sebagimana dinuqil oleh As-Suyuthi dari Ibn Abbas ra.
Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman : Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.(QS Hud:120), tampak jelas dalam pengertian ayat tersebut bahwa cerita-cerita tentang Nabi-Nabi terdahulu telah menambahkan kekuatan keimanan dalam hati Nabi Muhammd saw. Dan pada hari ini, kita ummatnya juga membutuhkan penguat terhadap keimanan dalam hati kita dengan kisah-kisah keteladanan beliau semasa hidupnya.
Peringatan maulid adalah salah satu bentuk ungkapan kegembiraan akan lahirnya baginda Nabi Muhammad saw, yang dalam satu riwayat dijelaskan, bahwa Abi Lahab, pamanda Nabi yang kafir itu saja setiap hari senin mendapatkan keringanan dari siksaan yang diterimanya. Semua itu didapatkan oleh Abu Lahab, karena  dia telah memerdekakan budaknya tepat pada hari kelahiran keponakannya yang kelak menjadi Nabi Akhir Zaman itu. Abi Lahab sangat bergembira dengan kelahiran beliau.
Kalau saja Abi Lahab, sang penentang Nabi itu mendapatkan anugerah seperti itu, apalagi kita selaku ummat sang Nabi Muhammad saw, tentulah Allah SWT akan menganugerahkan pahala yang besar bagi yang bergembira dengan kelahiran beliau. Amin.

Jawaban Prof. DR. As Sayyid Muhammad Al Maliki tentang Peringatan Maulid

Did you like this? Share it:

22 thoughts on “Mengapa harus memperingati maulid Nabi Muhammad saw ?

  1. boedie

    para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, serta generasi muslim yang tegak diatas sunnah nabinya, belum pernah mengadakan acara kayak gini, mana baik / siapa lebih pintar/ siapa lebih dekat dengan alloh, mereka atau anda?

    1. hoeda

      Para Rasul, shahabat dan tabiin, juga tidak pernah menggunakan internet, apalagi membaca blog. Apa yang anda lakukan disini ? bukankah yang sedang anda lakukan ini adalah sesuatu yang haram dan menyesatkan ?
      jangan dengan mudah memutuskan apa yang tidak dikerjakan Rasul, shahabat, tabiin dan shalafus shalih sebagai sesuatu yang sesat. Lihat dulu konteksnya, dan pelajari lebih mendalam.

  2. udin

    Hanya orang Tolol dan Goblok.. yang tidak mau Mengagunggakan nama Nabi Muhammad SAW.
    org yg Bodoh yang meanggap Maulid dan Isra Miraj itu Bid’ah…

    jangan hanya tahu arti dari Al Qur’an jika tidak memahami maksud dari arti tersebut.

    dalam Al Qur’an jelas di jelaskan bahwa kita wajib MEMULIAKAN namanya (Qs. Al A’raf : 157)

  3. unggul

    saudaraku2 semua sudahlah kita tidak usah saling menyalahkan, marilah kita belomba untuk mencari kebenaran yang hakiki, yang perlu kita sadari bahwa manusia itu tidak ada yang benar kecuali rosul hanya berusaha untuk menjadi manusia yang benar, kalo kita saling melayangkan tangkisan yang timbul emosi akhirnya nafsu kita yang akan berkuasa. Untuk itu saling bersabarlah saudaraku semua marilah kita beristigfar biar hati kita semua jadi damai dan nikmat, sehingga akan dapat meningkatkan ibadah kita kepada Allah S.W.T.

  4. buya

    berarti anda sama saja telah menuduh para sahabat sebagai orang goblok dan tolol, karena para sahabat ,tabiin,tabiut tabiin dan imam yang 4 tidak pernah melakukan maulid.!!!!!!!! soudara merasa lebih pintar dari mereka diatas . wal iyadzu billah.

    1. hoeda

      yang menuduh itu siapa ?? lah jelas-jelas anda yang menulis seperti itu… pernah baca maulid gak sih ? coba apa isinya ???

  5. adam

    akh buya.. “tolong fahami” arti lebih dalam “memperingati/ mengingat2” sebuah sejarah.. atu apalah… dalam hal kepentingan mengingat sejarah ini.. baca “muqaddimah ibnu khaldun”, sebagai refleksi, bagi kita agar bisa meneladani rasulullah.
    dalam bacaan maulid sendiri, tidak ada hal2 yang menjerumus kemungkaran.. semua malah berisi tentang shalwat, menerangkan sejarah rasulullah, ada mau’idzatul hasanah, ada shodaqah, adapula “mediamemper erat ukhuwah islamiyah” apakah antum masih tetap mngatakan istu sesat? subhanaka ya rabb … hadza buhtanun ‘adzim…

  6. zundi

    apa”an kalian?
    ga cape”nya mmperdbatkn msalh maulid nabi? malu”in aja! bagi kalian yang sering mnjalnkn maulid ya jalnkn saja kalo emang kalian punya hujah yang kuat tuk di jadikn dasar hukumnya,, dan yang mersa itu tida ada cntohnya dari rosul, ya sudah jangan saling hujat gtu!

  7. ubaith cakep

    kalo saya nurut umumnya saja,,,,
    ju2r, saya tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan para mahkluq allah di atas,,,
    tapi kalo boleh saya mengingat-kan,,,,
    qt sebagai orang muslim harus saling mengingatkan,,,
    dan kalo memang ada yang tdk sependapat, seharusnya di ijma’, agar semuanya jelas,,,,,,,,,
    he2x,,,,,,,

    mav, omongan q agak ngelantur.

  8. wanz

    TIDAK BOLEH merayakan peringatan maulid nabi karena hal itu termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama ini, karena Rasulullah tidak pernah merayakannya, tidak pula para Khulafaur Rasyidin dan para Sahabat, serta tidak pula para tabi’in pada masa yang utama, sedangkan mereka adalah manusia yang paling mengerti dengan As-Sunnah, paling cinta kepada Rasulullah, dan paling ittiba’ kepada syari’at beliau dari pada orang–orang sesudah mereka.

    Dan sungguh telah tsabit (tetap) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Barang siapa mengadakan perkara baru dalam (agama) kami ini yang tidak ada asal darinya, maka perkara itu tertolak. “(HR. Bukhari Muslim).

    Dan beliau telah bersabda dalam hadits yang lain : “(Ikutilah) sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk sesudahku. Peganglah (kuat-kuat) dengannya, gigitlah sunnahnya itu dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah perkara-perkara yang diadakan-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat. (HR. Tirmidzi dan dia berkata : Hadits ini hasan shahih).

    Dalam kedua hadits ini terdapat peringatan yang keras terhadap mengada-adakan bid’ah dan beramal dengannya. Sungguh Alloh telah berfirman : “Apa yang telah diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. “(QS. Al-Hasyr : 7).
    Alloh juga berfirman : “Maka hendaknya orang yang menyalahi perintah-Nya, takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. “(QS. AN-Nuur : 63).

    Allah juga berfirman : “Orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah. Dan Allah menyediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya ada sungai-sungai yang mengalir, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. “(QS. At-Taubah : 100).

    Allah juga berfirman : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agamamu. “(QS. Al Maidah : 3). Dan masih banyak ayat yang semakna dengan ini.

    Mengada-adakan Maulid berarti telah beranggapan bahwa Allah ta’ala belum menyempurnakan agama ini dan juga (beranggapan) bahwa Rasulullah belum menyampaikan seluruh risalah yang harus diamalkan oleh umatnya. Sampai datanglah orang-orang mutaakhirin yang membuat hal-hal baru (bid’ah) dalam syari’at Allah yang tidak diijinkan oleh Allah.

    Mereka beranggapan bahwa dengan maulid tersebut dapat mendekatkan umat islam kepada Allah. Padahal, maulid ini tanpa di ragukan lagi mengandung bahaya yang besar dan menentang Allah dan Rasul-Nya karena Allah telah menyempurnan agama Islam untuk hamba-Nya dan Rasulullah telah menyempurnakan seluruh risalah sampai tak tertinggal satupun jalan yang dapat menghubungkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali beliau telah meyampaikan kepada umat ini.

    Sebagimana dalam hadits shohih disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali wajib atas nabi itu menunjukkan kebaikan dan memperingatkan umatnya dari kejahatan yang Allah ajarkan atasnya. “(HR. Muslim).

    Dan sudah diketahui bahwa Nabi kita adalah Nabi yang paling utama dan penutup para Nabi. Beliau adalah Nabi yang paling sempurna dalam menyampaikan risalah dan nasehat. Andaikata perayaan maulid termasuk dari agama yang diridhoi oleh Allah, maka pasti Rasulullah akan menerangkan hal tersebut kapada umatnya atau para sahabat melakukannya setelah wafatnya beliau.

    Namun, karena tidak terjadi sedikitpun dari maulid saat itu, dapatlah di ketahui bahwa Maulid bukan berasal dari Islam, bahkan termasuk dalam bid’ah yang telah Rasulullah peringatkan darinya kepada umat beliau. Sebagaimana dua hadits yang telah lalu. Dan ada juga hadits yang semakna dengan keduanya, diantaranya sabda beliau dalam khutbah Jum’at : “Amma ba’du, maka sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang di ada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat. “(HR. Muslim).

    Ayat-ayat dan hadits-hadits dalam bab ini banyak sekali, dan sungguh kebanyakan para ulama telah menjelaskan kemungkaran maulid dan memperingatkan umat darinya dalam rangka mengamalkan dalil-dalil yang tersebut di atas dan dalil-dalil lainnya.

    Namun sebagian mutaakhirin (orang-orang yang datang belakangan ini) memperbolehkan maulid bila tidak mengandung sedikitpun dari beberapa kemungkaran seperti : Ghuluw (berlebih-lebihan) dalam mengagungkan Rasulullah, bercampurnya wanita dan laki-laki, menggunakan alat-alat musik dan lain-lainnya, mereka menganggap bahwa Maulid adalah termasuk BID’AH HASANAH, sedangkan kaidah Syara’ (kaidah-kaidah / peraturan syari’at ini) mengharuskan mengembalikan perselisihan tersebut kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah, sebagaimana Allah berfirman :
    ” Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan Ulil Amri dari kalian maka bila terjadi perselisihan di antara kalian tentang sesuatu kembalikanlah kepada (kitab) Allah dan (sunnah) RasulNya bila kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya. “(QS. Ann Nisaa’ : 59).
    Allah juga berfirman : “Tentang sesuatu apapun yang kamu berselisih, maka putusannya (harus) kepada (kitab) Allah, “(QS. Asy Syuraa : 10).

    Dan sungguh kami telah mengembalikan masalah perayaan maulid ini kepada kitab Allah. Kami mendapati bahwa Allah memerintahkan kita untuk ittiba’ (mengikuti) kepada Rasulullah terhadap apa yang beliau bawa dan Allah memperingatkan kita dari apa yang dilarang. Allah juga telah memberitahukan kepada kita bahwa Dia – Subhanahu wa Ta’ala – telah menyempurnakan Agama Islam untuk umat ini. Sedangkan, perayaan maulid ini bukan termasuk dari apa yang dibawa Rasulullah dan juga bukan dari agama yang telah Allah sempurnakan untuk kita.

    Kami juga mengembalikan masalah ini kepada sunnah Rasulullah. Dan kami tidak menemukan di dalamnya bahwa beliau telah melakukan maulid. Beliau juga tidak memerintahkannya dan para sahabat pun tidak melakukannya. Dari situ kita ketahui bahwa maulid bukan dari agama Islam. Bahkan Maulid termasuk bid’ah yang diada-adakan serta bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang yahudi dan nasrani dalam perayaan-perayaan mereka. Dari situ jelaslah bagi setiap orang yang mencintai kebenaran dan adil dalam kebenaran, bahwa perayaan maulid bukan dari agama Islam bahkan termasuk bid’ah yang diada-adakan yang mana Allah dan Rasulnya telah memerintahkan agar meningggalkan serta berhati-hati darinya.

    Tidak pantas bagi orang yang berakal sehat untuk tertipu dengan banyaknya orang yang melakukan Maulid di seluruh penjuru dunia, karena kebenaran tidak diukur dengan banyaknya pelaku, tapi diukur dengan dalil-dalil syar’i, sebagaimana Allah berfirman tentang Yahudi dan Nasrani : “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata : ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani’. Demikianlah itu (hanya) angan-angan kosong mereka belaka. Katakanlah :’ Tunjukkanlah bukti kebenaran jika kamu adalah orang yang benar .” (QS. Al Baqarah : 111).
    Allah juga berfirman : “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. “(QS. Al An’aam : 116 ). Wallahu a’lamu bis-showab.

  9. Syukur

    kami memperingati maulid Nabi Muhammad SAW dengan tholabul ilmi, berzikir, beristighfar, dan membaca shalawat.. Alhamdulillah..

  10. Haz

    Peringatan Maulid yng dilaksakanakan sebagian besar Umat Islam, merupakan unkapan syukur atas Dilahirkan Seorang Khotamil An Biya’, yang namanya bersanding dng Asma Allah SWT. dan selalu kita sebut setiap hari, baik dalam shalat atau waktu yng lain.
    Bukan berarti suatu hal yng hrus dianggap Bid’ah. tapi coba kalu kita tela’ah, bahwa dalam peringatan yng dilaksanakan sebagian besar umat Islam, banyak diisi didalamnya dengan membaca Shalawat Nabi, tdk ada selain itu, dan membaca shalawat adalah keharusan kita sebagai Ummatnya. Jangankan kita, Allah dan para Malaiktat Bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. “Innallaaha Wa Malaaikatahuu Yusholluuna ‘Alan Nabii….” (Sesungguhnya Allah dan Para Malaikat Bersholata kepada Nabi..).
    Tdak bolehkan kita membaca shalawat pada saat hari Kelahiran Rasulullah…?
    Kalw demikian, cobalah kita menjadi orang yang cerdas dan bijaksana dalam menyikapi sgla sesautu sesuai dng apa yng di tauladankan Rasulullah kpd kita.
    Bukan saling menyalahkan, membodohkan, membenarkan diri sendiri, dan menganggap kafir orang lain.
    Ada sesuatu yang hrs kita laksanakan bersama, yakni: Meng Islamkan para Ghoiru Islam.
    Bukan berdebat terhadap keyakinan kita masing2. sudahlah, kita memang punya pemahaman dan maeyakini faham kita. jangan saling berdebat sesuatu yng tdk membawa hikmah. tapi mari kita mengadakan misi ISLAMISASI. sesuai dengan kemampuan dan kekuatan faham yng kita ikuti. Jangan biarkan Misi KRISTENISASI meraja lela, Lupakah kita akan hal itu…? mari kawan……

  11. amien

    Klo di hati yg plg dlm adalah Laa Ilaa HaIllallaah Muhammadurrasuulullah,tanpa ªϑă setitik kemusyrikan. Itulah harga mati.

  12. Agus

    Dewasa ini ada beberapa sekte yang sangat benci dengan Maulid Nabi, padahal Rasulullah SAW sendiri memperingati hari lahir beliau tiap Senin dg berpuasa sunnah yg dijawab Beliau karena memperingati hari kelahiran Beliau. Semoga saja sekte-sekte yang jauh dengan tuntunan Rasulullah SAW ini segera insyaf.

  13. amien

    Sebenarnya yg perlu dikoreksi bukan “MEMPERINGATI MAULID NABI”nya gan, but “BAGAIMANA CARA” memperingatinya. Selama dg cara yg tdk menimbulkan kesyirikan spt larung sesaji, ngumbah gaman, gong sampek ngumbah awak di air suci atau sejenisnya itulah yg perlu dibimbing kembali ke akidah murni seorang muslim yakni makna syahadat yg sesungguhnya. Klo diisi dg dzikir, do’a, baca al-qur’an yg disitu jelas2 ada perintah Allah & Rasul sangat menjadikan ladang amal sholeh bagi kita. Afwan/CMIIW, wallahu’a’lam bisshowab.

  14. Endar Bono S

    Bagiku sendiri peringatan maulid nabi asal tidak diikuti dengan penyimpangan maka bukanlah suatu bid’ah atau pelanggaran dari aqidah Islam ; jika kita mau memikirkan lebih dalam: ” Mengapa di Al-quran diceritakan juga kisah ummat lampau ? ” , tentunya perbedaan yang mengakibatkan gontok-gontokan,adu argumen, hanya ingin untuk menonjolkan diri dan pencarian akan kepuasan diri tak akan berkelanjutan.Dan ingatlah bahwa yang berhak menentukan benar atau salah yang menyangkut keyakinan dalam hati seseorang hanyalah Allah Yang Maha Tahu , jadi sebaiknya kita jangan menggunakan telunjuk,mulut untuk memvonis suatu keadaan. Boleh jadi apa yang telihat benar dipandangan manusia namun dimata Allah adalah sesuatu yang salah ; dan sebaliknya.
    Gitu aja…mengapa mesti ribut jika kita ini sebenarnya satu saudara ?

  15. Abdul Majid, SAG

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi Ttradisi sarana da’wah Islam yang telah dilakukan oleh para ulama hususnya ulama ahlussunnah wal-jama’ah serta umatnya sejak dahulu dijadikan momentum untuk mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah SAW sejak kelahiran, perjuangan da’wah dan sampai wafat beliau (yang mengawali perayaan Maulid Nabi ini bukan orang-orang goblog yang buta Al-Qur’an dan segala macam Hadits )jadi peringatan Maulid Nabi ini merupakan tradisi yang baik (bahasa santrinya Bid’ah khasanah)yang dilestarikan sampai dengan sekarang dan mudah-mudahan sampai hari kiyamat. amin

    qur

  16. Prigel

    Apapun acara peringatan, kalau tidak ada tuntunan/ disyari’atkan dalam Islam apa ngga sebaiknya berhati-hati ? dikhawatirkan ada yang tidak puas, tidak sreg/ pas menurut nafsunya dengan syariat Islam, sehingga membuat kreatifitas syariat baru? Na’udzubillaahi min zalik. Wallaahu a’lam.

  17. Aity Evco

    Ya Alloh ampunilah hamba-hambaMU yang kali ini dan sebelumnya selalu memperdebatkan hukumnya memperingati kelahiran nabi,yang selalu merasa diri dan keyakinannya benar, yang kadang menghujat orang lain dan memaksakan pendapat serta mengadu dalil yang dianggapnya benar. Padahal sesungguhnya hanya Engkaulah sumber kebenaran yang hakiki.Aku yakin kami hanya berebut kebenaran yang kami lakukan semata-mata karena kami mencintai Rosul, oleh karena itu jika langkah kami selama ini salah maka ampunilah kami semua umat Islam.

  18. hamass

     

    Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang
    menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.”[9].

    Ibnu Mas’ud radhiyallahu
    ‘anhu
    berkata,

    اتَّبِعُوا،
    وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

    “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena
    (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.”
    (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al
    Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah
    perawi yang dipakai dalam kitab shohih).

    1. hoeda

      dalam ilmu hadits ada istilah takhshis hadits, nah silahkan ditelusuri, apa itu maksud takhshis hadits.
      dari segi bahasa ‘kullun’ itu tidak selalau bermakna “semua”, nah silahkan dipelajari lagi bahasa arabnya  😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.