Merencanakan kematian

Berawal dari sebuah kutipan berbahasa Arab pada salah satu group yang saya ikuti di Facebook, yang kemudian membuat saya terbersit untuk menuliskan artikel ini. kutipan tersebut berbunyi :

مات المرء على ما عاش

Yang kurang lebih artinya seperti ini : Seseorang bisa dan atau bahkan akan mati menurut kebiasaanya semasa hidup.

Pagi ini kutipan tersebut terbukti dengansangat telak dan menusuk relung hati ini,  dengan wafatnya salah satu ulama besar di daerah saya, KH Ahmad Zamahksyari Rifa’ie, Pegasuh Ponpes Al-Rifa’ie, saat beliau akan memimpin jamaah istighatsah di Ponpes Al-Rifa’ie Ketawang Godanglegi Malang.

Menurut cerita salah satu rekan di group yang lain, beliau terjatuh dan kemudian meninggal saat berjalan menuju mihrab didalam masjid, untuk memimpin shalat dluha dan dilanjutan dengan istighatsah sebagaimana kebiasaan beliau yang rutin dilaksanakan setiap hari minggu.

Dan saya perhatikan juga banyak tokoh-tokoh ulama lain yang juga mengalami “kejadian” yang sama, kembali menghadap kehadirat Allah SWT pada saat melaksanakan kebiasaan-kebiasaan mulianya. Dan bahkan Rasulullah SAW pun, wafat dalam keadaan memikirkan umatnya, sampai pada detik-detik terakhir ruhnya keluar dari jasad suci itu.

Maka kiranya mulai saat ini, kita perlu melakukan perencanaan yang sangat matang, kira-kira kebiasaan apa yang akan kita lakukan kelak saat menutup mata untuk selamanya…

Did you like this? Share it:

Leave a Reply

Your email address will not be published.