Pertarungan menjelang kematian

Ada sebuah kejadian menarik pada saat guru saya, KH. Qosim Bukhori, mendekati waktu berpulang kerahmatullah. Pada saat itu almarhum sedang koma secara klinis, beliau tidak lagi menyadari apa yang terjadi disekitarnya, dan tidak lagi mengenal siapapun, tidak dapat merespon apapun. Beberapa peralatan medis tampak berada pada beberapa bagian tubuh beliau ada yang untuk memonitor kondisi fisik beliau, ada juga beberapa alat medis lain yang tampaknya berguna untuk menunjang kondisi organ dalam beliau yang tidak stabil.

Dalam kondisi yang sangat menyedihkan itu, beberapa kali putri almarhum meminta kepada adik almarhum yang biasanya begitu akrab bersama beliau, KH Mudjtaba Bukhori, untuk masuk keruang ICU unit stroke dan melihat kondisi beliau walaupun sejenak. Tetapi jawaban beliau sungguh diluar dugaan, KH Mudjtaba tidak berkenan menjenguk kakaknya yang sedang dalam kondisi koma itu, bahkan terkesan beliau begitu menjauh dari ruangan. Beliau hanya menjawab ” Tidak. Nanti aku mengganggu Kak Qosim…”. Setelah itu beliau berlalu pergi menemui beberapa keluarga yang lain yang sedang berdiri diujung ruangan, agak jauh dari ruang ICU.

Bagi kita yang begitu awam, keengganan KH Mudjtaba Bukhori untuk menemui sang kakak pada saat-saat terakhir itu cukup membuat bertanya-tanya dan membuat penasaran. Tetapi sebetulnya keengganan beliau bisa dimaklumi, mengingat pada saat itu menurut beberapa riwayat dalam kitab-kitab klasik, almarhum sedang berjuang untuk mempertahankan keimanan beliau, karena pada saat itulah saat yang paling genting dalam kehidupan seorang manusia.

KH Qosim Bukhori sendiri semasa beliau masih hidup dalam beberapa pengajian, seringkali menjelaskan betapa gentingnya saat-saat dimana seseorang sedang mengalami sakaratul maut. Karena syetan pada saat itu berusaha sekuat tenaganya untuk merebut keimanan seorang manusia dan menggantinya dengan kesesatan. Sekali saja keimanan itu terenggut oleh syetan, maka habislah sudah harapan untuk bisa selamat.

Karena itu ketika seseorang sedang mengalami sakaratul maut, seharusnya tidak ada sesuatu apapun yang dapat mengganggu konsentrasinya untuk mempertahankan keimanan itu, bisa berupa harta, jabatan dan bahkan keluarganya sendiri, dapat mengakibatkan keimanannya tidak dapat dipertahankan. Dari situlah kemudian mengapa kebiasaan berdzikir itu penting, karena pada saat gawat itulah kebiasaan berdzikir ini mutlak diperlukan.

Bisa anda bayangkan kalau anda tidak biasa berdzikir kepada Allah SWT, dan menghaapi situasi seperti itu, dimana syetan sekuat tenaganya¬† untuk yang terakhirkalinya berusaha merebut keimanan dari hati anda dan menggantinya dengan kesesatan. Na’udzubillah min dzalik.

Did you like this? Share it:

Leave a Reply

Your email address will not be published.