Sejarah shalat tarawih (bagian 1)

Shalat tarawih adalah  bagian dari qiyam al lail pada bulan ramadlan, dan merupakan salah satu shalat sunnah yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah SAW dan para shahabat secara tidak berjamaah selama beberapa waktu, dan kemudian dilaksanakan secara berjamaah oleh para shahabat.
Diriwayatkan dari Siti ‘Aisyah ra, beliau berkata : Sesungguhnya suatu ketika Nabi SAW melaksanakan shalat dimasjid, kemudian diikuti oleh para shahabat (menjadi makmum). Keesokan harinya Nabi SAW kembali shalat dan para shahabat semakin banyak yang menjadi makmum. Dan ketika tiba pada hari ketiga, para shahabat telah banyak berkumpul, tetapi Rasulullah SAW tidak berkenan keluar menemui mereka (untuk menjadi imam). Keesokan harinya, Rasulullah SAW bersabda : “Aku mengetahui apa yang kalian lakukan (tadi malam), dan aku tidak berkenan untuk keluar menemui kalian, tidak lain karena aku khawatir shalat ini akan diwajibkan kepada kalian.” (HR Bukhari dan Abu Dawud)
Setelah para shahabat mengetahui maksud Rasulullah SAW adalah karena kekhawatiran akan diwajibkannya shalat tarawih, mereka kembali berkumpul dimasjid dan melaksanakan shalat tarawih dengan semangat. Sebagian dari para shahabat itu melaksanakan shalat tarawihnya secara sendiri (tidak berjamaah), dan sebagian yang lain melaksanakannya secara berjama’ah.
Hal ini berlangsung hingga pada masa Umar ra, dimana suatu ketika beliau masuk kemasjid dan menemukan para shahabat dan tabi’in telah banyak berkumpul memenuhi masjid, ada diantara mereka yang shalat sendiri (tidak berjamaah) dan ada pula yang melaksanakan shalat secara berjamaah bersama rekannya.
Umar ra melihatnya situasi itu secara seksama, beliau kemudian memikirkan bagaimana cara agar situasi didalam masjid menjadi lebih tenang dan lebih khusyu’. Beliau kemudian menetapkan adanya satu orang imam saja, dan beliau memilih Ubay ibn Ka’ab ra untuk menjadi imam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Sy Umar ibn Abdul Qari yang mengatakan : Ketika itu aku keluar bersama Umar ibn Khaththab ra menuju masjid pada bulan ramadlan, dan terlihat banyak orang yang melaksanakan shalat secara terpisah-pisah, dan ada juga yang shalat secara berjamaah. Umar ra kemudian berkata : “Menurut pendapatku kalau seandainya mereka berjamah tentu akan lebih baik.” selanjutnya Umar ra menetapkan Ubay ibn Ka’ab ra untuk menjadi imam shalat tarawih. Pada malam yang lain aku kembali keluar bersama Umar ra, dan melihat para orang-orang itu melaksanakan shalat secara berjama’ah. Umar ra berkata : “Inilah sebaik-baik bid’ah (sesuatu yang baru), waktu yang mereka gunakan untuk tidur (akhir malam) lebih baik dibandingkan waktu yang mereka gunakan untuk shalat –maksudnya akhir malam-. Pada awalnya, orang-orang waktu itu menunaikan shalat pada awal malam.”(diriwayatkan oleh Bukhori)

Diterjemahkan dari Mausu’ah Yusufiyah Fi Bayan Adillah al Shufiyah oleh Syaikh Yusuf Khathar Muhammad

Did you like this? Share it:

3 thoughts on “Sejarah shalat tarawih (bagian 1)

    1. hoeda Post author

      bukan mas, tetep sunnah, bagi umat Islam, seandainya waktu itu Rasulullah SAW mau selalu berjamaah, ada kemungkinan menurut Rasulullah SAW akan berubah jadi wajib

  1. Nasir

    oh, jadi sebenarnya solat tarawih itu boleh sendiri ataupun berjamaah,,
    namun supaya terlihat lebih khusu’ maka umar r.a meyuruh untuk berjamaah, karena akan terlihat lebih selaras

Leave a Reply

Your email address will not be published.