Shalat sepanjang waktu

Shalat adalah tiang agama, sebagai tiang maka kekokohannya harus benar-benar harus bisa diandalkan. Kekokohan disini maksudnya adalah istiqamah, kemampuan kita untuk menjaga shalat itu sendiri, setidaknya melaksanakannya tepat pada waktunya. Dizaman yang sudah serba materi ini, tidak banyak manusia yang benar-benar mampu untuk menjaga kekokohan itu, kadang shalat kalau lagi ingat, kadang juga shalat ditinggal kalau terlalu sibuk dengan urusannya.
Nah terbayang tidak bagaimana kalau kita harus shalat sepanjang waktu ? untuk melaksanakan shalat lima waktu saja, yang kadang hanya butuh 10-15 menit kita tidak sanggup melaksanakannya secara istiqamah.

Tetapi begitulah kuasa Allah SWT, Dia bisa memilih segelintir manusia yang memang benar-benar bisa melaksanakan shalat sepanjang waktu. Ya betul shalat sepanjang waktu, bahkan tidak jarang samapi lupa waktu, sehingga shalatnya jadi berubah sepanjang hidup.

Dalam satu riwayat, seringkali alm. Syaikh RM. Kholil dari Bangkalan Madura, yang merupakan guru dari hampir seluruh ulama di pulau Jawa pada zamannya, melaksanakan shalatnya melebihi batas waktunya, bahkan sampai bersambung dengan waktu shalat berikutnya, semisal shalat Isya’ bersambung dengan waktu shalat shubuh. Beberapa hamba Allah yang lain, malah tidak lagi bisa membedakan mana waktu shalat dan mana waktu untuk kehidupannya.

Kenapa bisa demikian ? jawabnya sederhana, karena mereka “overdosis” kekhusyukannya ketika mereka sedang shalat. bagi mereka shalat bukan hanya sekedar ritual untuk menggugurkan kewajiban, tetapi shalat adalah sarana untuk menghadapkan diri dihadapan Sang Pencipta. Karena itulah mereka terlarutkan kedalam suasana yang tidak lagi mampu kita gambarkan situasinya, yang jelas dunia ini sudah tiada, waktu sudah punah, rasa sudah hilang, semua sudah tidak lagi bisa dilihat. Keadaan ini mereka rasakan setiap saat, setiap detik, setiap jam, setiap hari, sepanjang hidup. Tidak ada lagi kebutuhan pada dunia ini.

Kemudian muncul pertanyaan lagi, apakah hal itu bukan bid’ah yang terlarang ? karena Rasulullah saw, tidak pernah berbuat atau bahkan mengajarkan hal-hal seperti itu. Dalam sebuah riwayat dalam kitab Jawahir al Bukhari, dijelaskan bahwa secara fisik Rasulullah saw memiliki kemampuan yang jauh melebihi kemampuan manusia biasa, bahkan diriwayatkan juga, kemampuan Rasulullah saw, setara dengan tiga puluh manusai biasa. Sungguh kemampuan yang sangat tangguh, maka tidaklah sulit bagi Rasulullah saw untuk menahan dan menjaga agar tetap berada dalam keadaan “normal”. Sebagai bukti, Rasulullah saw, mampu berhadapan langsung denganjin, malaikat bahkan dengan Sang Pencipta, Allah Rabb al Izzati. Yang kalau seandainya manusia biasa yang mengalaminya, maka paling tidak dia akan kehilangan akal, atau bahkan akan musnah ketika harus berhadapan dengan Sang Pencipta.

Begitulah Rasulullah saw dengan kekuatannya untuk tetap menjadi manusia “normal”, tetapi tidak demikian halnya dengan umatnya yang jauh lebih lemah. Karena itu tidak jarang ketika, beberapa umatnya “overdosis” kekhusyukannya ketika menghadap Sang Pencipta, dia tidak lagi mampu menahan dirinya untuk tetap menjadi “normal”.

Did you like this? Share it:

Leave a Reply

Your email address will not be published.