Syari'at VS Hakekat

Bagi seorang muslim harusnya senantiasa berusaha untuk menjadi sorang muslim yang kamil atau sempurna, tidak hanya diam menerima status muslim yang “standart”, apalagi muslim dibawah standart. Memang tidak banyak muslim yang menyadari dan memahami adanya keharusan ini, bahkan tidak sedikit yang cuek bebek dengan status keIslamannya, bahkan ada beberapa diantara yang malah mengalami kemerosotan tanpa terkendali.

Ada beberapa cara yang dikemukakan oleh para ahli agar seorang muslim yang masih standart, bisa naik status hingga menjadi muslim kamil atau sempurna. Salah satu diantaranya adalah dengan mengajukan teori tiga tingkatan status muslim, yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Ada juga yang mengajukan 4 tingkatan yang harus dilalui sang muslim, yaitu syari’at, tarekat, hakikat dan ma’rifat.

Walaupun kedua macam tingkatan yang harus di lalui seorang muslim itu begitu sederhana, namun tidak demikian dengan prosesnya. Bisa butuh waktu berpuluh-puluh tahun agar bisa sampai pada tingkatan sempurna, yaitu ma’rifat. Tetapi ada juga orang-orang tertentu yang bisa mencapainya dalam waktu yang singkat. Semuanya berpulang pada kehendak Yang Maha Kuasa, karena arti sebenarnya dari ma’rifat itu adalah mengenal, memahami dan mengetahui siapa Tuhan itu.

Bahkan terkadang dalam proses menuju ma’rifat itulah, seseorang mengalami “kelainan jiwa” sehingga dia tanpa sadar telah meninggalkan syari’at. Tidak sedikit yang mengalami hal ini, bahkan beberpa diantaranya kemudian di cap sebagai orang murtad dan mendapatkan hukum yang sangat berat.

Dalam beberapa kasus yang bisa kita ambil pelajaran, semisal kehidupan para tokoh sufi, mereka mengalami masa-masa yang snagat berat atas jiwa mereka, ketika masuk dalam tahapan hakekat, bahkan beberapa diantaranya tidak lagi dapat bersosialisasi, oleh karena ketidakmampuan mereka untuk menahan gejolak kejiwaan dalam diri mereka. Akibatnya seringkali terlontar ucapan=ucapan yang tidak sepantasnya didengar oleh muslim yang masih awam.

Tetapi dalam proses kenaikan ketingkatan berikutnya, yaitu ma’rifat, mereka sudah bisa mengendalikan diri mereka kembali, sehingga bisa kembali bersosialisasi dengan lingkungannya secara baik. Nah pada saat itulah, Sang Khalik selalu memanggil mereka untuk pulang kepadaNya, sebagai jiwa-jiwa yang muthma’innah (tenang). Selanjutnya berkumpul dengan hamba-hambaNya dan masuk kedalam surgaNya.

Did you like this? Share it:

One thought on “Syari'at VS Hakekat

  1. ayahshiva

    hmmm…..
    gak heran kalo orang yang amalan nya banyak di dunia biasa nya lebih cepet meninggalkan dunia ini, lain jika di bandingkan dengan mereka yang punya perilaku menyimpang contoh nya preman, biasanya mereka lama matinya

    hehehehe… sepertinya emang gitu rumus kehidupan ini mas…
    jarang ada orang baek, tapi panjang umurnya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.